Menanggapi banyaknya
pertanyaan di tengah masyarakat mengenai tol laut yang dicanangkan
pasangan capres Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), tim sukses pasangan
tersebut angkat bicara. Tol laut bukanlah jalan tol yang dibangun di
atas laut atau di bawah laut.
"Tol laut merupakan ide brilian yang menjadi agenda penting. Tol laut adalah jalur kapal-kapal besar yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia. Akan ada kapal rutin berlayar dari Sumatera ke Papua dan kembali. Kalau jadwal teratur maka sistem transportasi laut bisa efisien," kata anggota Tim Ahli Ekonomi Jokowi-JK Wijayanto Samirin pada konferensi pers di Media Center Jokowi-JK, Selasa (17/6/2014).
Menurut Wijayanto, saat ini sistem transportasi laut khususnya untuk barang masih jauh dari apa yang dibayangkan. Tidak ada jadwal kapal berangkat, tiba, dan penurunan barang secara pasti. Ini menyebabkan biaya logistik di Indonesia cenderung mahal.
Pada tahun 2013, biaya logistik Indonesia mencapai 27 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara pada tahun 2011 mencapai 24,6 dari PDB. "Akan ada kapal besar, rutin, dan dalam jumlah banyak yang menghubungkan kota besar, yakni Medan, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong. Ada kapal yang bolak-balik," jelas Wijayanto.
Di samping itu, lanjut Wijayanto, di antara 5 kota tersebut akan beroperasi pula kapal-kapal yang lebih kecil yang menghubungkan kota-kota di sekitarnya. 10 pelabuhan kontainer akan dibangun secara menyebar. Sehingga, kota-kota besar akan dihubungkan dengan 10 pelabuhan.
Tol laut tersebut akan terintegrasi secara efisien dengan jalur ganda (double track) kereta api. Tak hanya itu, pengefisienan jalur transportasi darat dengan truk pun akan dilakukan.
"Jadi akan ada kapal besar, kemudian jaringan kapal yang lebih kecil. Pelabuhan akan dikoneksikan transportasi darat. Trans shipment juga akan dibangun. Konsepnya sepertu pelabuhan di darat untuk memindahkan apa yang di darat dan dari darat ke kapal," ujar Wijayanto. (baca juga: Pengusaha Pelayaran: Tol Laut Jokowi Enggak "Make Sense")
"Tol laut merupakan ide brilian yang menjadi agenda penting. Tol laut adalah jalur kapal-kapal besar yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia. Akan ada kapal rutin berlayar dari Sumatera ke Papua dan kembali. Kalau jadwal teratur maka sistem transportasi laut bisa efisien," kata anggota Tim Ahli Ekonomi Jokowi-JK Wijayanto Samirin pada konferensi pers di Media Center Jokowi-JK, Selasa (17/6/2014).
Menurut Wijayanto, saat ini sistem transportasi laut khususnya untuk barang masih jauh dari apa yang dibayangkan. Tidak ada jadwal kapal berangkat, tiba, dan penurunan barang secara pasti. Ini menyebabkan biaya logistik di Indonesia cenderung mahal.
Pada tahun 2013, biaya logistik Indonesia mencapai 27 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara pada tahun 2011 mencapai 24,6 dari PDB. "Akan ada kapal besar, rutin, dan dalam jumlah banyak yang menghubungkan kota besar, yakni Medan, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong. Ada kapal yang bolak-balik," jelas Wijayanto.
Di samping itu, lanjut Wijayanto, di antara 5 kota tersebut akan beroperasi pula kapal-kapal yang lebih kecil yang menghubungkan kota-kota di sekitarnya. 10 pelabuhan kontainer akan dibangun secara menyebar. Sehingga, kota-kota besar akan dihubungkan dengan 10 pelabuhan.
Tol laut tersebut akan terintegrasi secara efisien dengan jalur ganda (double track) kereta api. Tak hanya itu, pengefisienan jalur transportasi darat dengan truk pun akan dilakukan.
"Jadi akan ada kapal besar, kemudian jaringan kapal yang lebih kecil. Pelabuhan akan dikoneksikan transportasi darat. Trans shipment juga akan dibangun. Konsepnya sepertu pelabuhan di darat untuk memindahkan apa yang di darat dan dari darat ke kapal," ujar Wijayanto. (baca juga: Pengusaha Pelayaran: Tol Laut Jokowi Enggak "Make Sense")
sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/17/1449113/Timses.Jokowi.Jelaskan.soal.Tol.Laut